Senin, 04 Juli 2011

Wukuf Di Arofah

Pukul 5:40 sehabis shalat shubuh rombongan sudah bersiap-siap untuk berangkat menuju Arofah. Hari ini kami akan menjalani puncak manasik haji wukuf di Arofah sehabis zawal sampai tenggelam matahari. Sekitar pukul 6 pagi kami meninggalkan tenda menuju tempat parkir bis. Kesibukan pada tanggal 9 Zulhijah sudah terlihat di beberapa tempat, semakin banyak jamaah haji berlalu lalang di Mina.


Bersiap menuju puncak haji Arofah

Kami menggunakan dua bis untuk berangkat ke Arofah. Saat survey beberapa hari yang lalu Arofah masih dalam penataan, toilet-toilet sedang dibersihkan, tenda-tenda sedang dipasang. Kalau tenda-tenda di Mina terlihat begitu rapih dan dari bahan tahan api, namun tenda di Arofah tidak demikian.  Tenda di Arofah memang hanya ditujukan untuk berteduh dalam hitungan jam, meskipun ada tenda-tenda yang menggunakan AC tetapi terlihat dengan instalasi sementara.

Semula kami membayangkan jalanan menuju Arofah penuh sesak dengan kendaraan dan jamaah haji yang berjalan kaki, sesuai dengan sajian informasi yang kami dapatkan dari mas media di tanah air. Namun apa yang kami rasakan dalam perjalanan dari Mina ke Arofah, kami tidak menemukan kerumunan dan sesaknya jalanan menuju Arofah. Pagi-pagi pukul 7.40 kami sudah menempati tenda di Arofah.


Suasana tenda di Arofah

Entah masalah apa, di Arofah kami ditempatkan pada tenda yang sebelumnya digunakan untuk menyimpan kasur-kasur dan bantal-bantal. Setelah beberapa jamaah ikut turun tangan memindahkan bantal dan kasur, kami bisa menempati tenda untuk istirahat. Tenda yang tidak ada AC dan hanya memiliki dinding pada tiga sisinya itu kami pasangi hijab untuk memisahkan ruang perempuan dan laki-laki.

Suasana perkemahan Arofah yang kami alami tidak sama dengan yang kami bayangkan sebelumnya. Semula kami membayangkan suasana Arofah yang serba sulit karena minimnya fasilitas terutama fasilitas toilet. Namun ternyata kalau perlu ke toilet hanya terdapat 2 atau 3 orang yang mengantri. Minuman dingin disebar oleh petugas muassasah di mana-mana. Makan parasmanan disediakan pada beberapa tenda dengan porsi yang berlebihan bagi kami.

Sambil menunggu waktu Dhuhur, beberapa jamaah menggunakan waktu tersisa untuk istirahat. Hal ini kami rasakan perlu karena untuk aktifitas nanti malamnya di Mutzalifah, belum tentu punya kesempatan dan suasana yang enak untuk istirahat, padahal manasik haji masih panjang.

Setelah memasuki waktu Dhuhur, pembimbing haji kami, Ustad Abu Haidar, memberikan khutbah. Sebuah khutbah yang menyentuh perasaan, mengingatkan akan dosa-dosa yang telah diperbuat. Dosa yang diiringi dengan perasaan takut seperti takutnya akan ditimpakan sebuah bukit jika kami tidak mendapatkan pengampunan dari Allah. Perasaan takut di hadapan Allah azza wa jalla atas dosa-dosa yang telah diperbuat membawa ke suasana hati untuk bertaubat dan memohon ampunan-Nya. Namun bukan perasaan takut kepada Allah saja yang bergelora dalam dada. Pengharapan yang besar pun akan jaminan Allah SWT akan diampuninya semua dosa bagi pelaku wukuf di Arofah. Kebahagiaan yang tiada taranya karena jamaah haji seperti dilahirkan kembali ke dunia ini dalam keadaan suci dari dosa.

Di tengah-tengah mendengarkan khutbah saya tidak bisa membendung air mata yang mengalir deras. Saya menangis karena perasaan takut dan sekaligus harapan / gembira.  Perasaan haru bahkan belum bisa hilang saat kami melaksanakan shalat Dhuhur dan Ashar di jamak qashar.  Selama shalatpun saya tidak bisa menahan air mata gembira karena saya termasuk orang-orang yang akan mendapatkan ampunan-Nya pada hari ini.

Waktu wukuf di Arofah berlangsung kurang lebih 5 jam setelah kepotong waktu makan siang. Saya sudah siapkan catatan-catatan yang menyangkut dosa-dosa besar yang sudah saya perbuat, untuk dimohonkan ampunan pada hari ini. Saya juga tidak lupa menyiapkan catatan-catatan pengharapan yang ingin saya mohonkan baik untuk saya pribadi, untuk istri, untuk anak-anak kami, untuk orang tua, untuk saudara-saudara kami, untuk kerabat kami, untuk teman-teman kami, untuk tetangga kami, untuk pemimpin negara kami dan semua kaum muslimin / muslimat. Point-point dalam catatan itu saya mohonkan berulang ulang diselingi dengan bacaan Shalawat, Syayidul Istighfar, Tahlil, Tahmid, Takbir dan baca Al-Qur’an.

Tidak terasa waktu sudah berlalu sampai di penghujung hari, para jamaah telah bersiap-siap untuk berbenah diri. Sehabis mengumpulkan perlengkapan, saya tidak mau menyiakan kesempatan untuk kembali berdo’a, do’a terakhir di padang Arofah, di penghujung hari Arofah, saat di mana Allah akan mengabulkan dan mengampuni dosa-dosa para jamaah.

Setelah matahari terbenam, kami bersiap-siap untuk bergerak ke Mutzalifah. Sesuai tuntunan Rasulullah kami akan melaksanakan Shalat Magrib dijamak dengan Shalat Isya di Mutzalifah. Namun saya melihat ke sekeliling, ternyata para jamaah lain banyak yang melakukan shalat Magrib di tenda-tenda Arofah.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar